MUNCUL BAHASA WARTAWAN MANJA, AKIBATNYA HILANG WARTAWAN KRITIS

Read Time:2 Minute, 39 Second

Faktaliputan.com – Memelusuri berbagai peristiwa yang muncul akhir akhir ini terhadap beberapa Wartawan dinegri ini, mendengar dan melihatnya baik langsung maupun melalui cuplikan berita, saya pribadi sangat menyedihkan nasib para Jurnalis (Wartawan) disatu sisi tugas para Jurnalis itu mencari berita, dan mencari Narasumber yang dapat dipercaya, hal ini kita tau bersama adalah dilindungi Undang – undang, akan tetapi namun demikian masih banyak yang ingin mengekang, menghalangi, malah sebagian sampai mengusir, Wartawan seolah mereka tak takut dengan ancaman Undang Undang tersebut, yang mana sesuai Pasal 18 UU 40 tahun 1999, Barang siapa dengan sengaja melarang/menghalangi tugas peliputan Wartawan di ancam  sanksi 2 tahun Penjara, atau denda 500,000,000 hal ini jelas akan tetapi penerapan “sanksi” ini masih jauh dari yang sebenarnya, alias belum pernah terjadi dan dilakukan penuntutan apakah lantaran Wartawan itu tidak ingin melaporkan secara hukum???atau memang ada persoalan lain??

Sebenarnya Wartawan itu adalah “pejuang” orang yang banyak warta, sedangkan hartawan adalah orang yang banyak harta menyimak dua sisi bahasa ini, kita memilih yang mana, jadi Wartawan atau Hartawan?? kalau kita mau jadi Wartawan ya tentu harus memiliki banyak Warta, jadi kalau begitu mari kita sama sama belajar agar jadi Wartawan yang Profesional, belajar dan belajar,  artinya rubah sifat diri, jadilah wartawan yang pemberani  dan mampu mengatakan yang salah itu memang salah, dan yang benar itu memang  benar, nah kalau sudah begitu, maka jadilah wartawan pejuang kebenaran jadilah wartawan pejuang demokrasi, selanjutnya jadilah wartawan yang Kritis bukan hanya Serimonial yang selalu merengek dan mengharapkan sesuatu mari hindari sifat Wartawan yang manja, dengan arti merengek tapi ada maunya.

Akhir akhir ini banyak sekali peristiwa yang mendiskriminasi para wartawan,.. di Sulawesi, di Jawa timur,..di Kalimantan,.. di Sumsel..di Aceh dan mungkin juga sampai kedaerah kita,yang mana sering terjadi intimidasi,..malah ada yang sampai mengusir wartawan pada saat meliput.

Wartawan disaat menjalankan fungsinya dilapangan, sering sekali berbenturan dengan situasi yang tidak menyenangkan, sering berhadapan dengan berbagai kendala, apa lagi bagi Wartawan yang kritis, sering berbicara fakta, dalam hal ini sangat banyak yang tidak senang, malah akibatnya para Jurnalis sering diancam, diteror, namun demikian, bagi kita seorang wartawan jangan takut, karena tugas kita hanya menulis Fakta dan realita, cari berita yang akurat dan jangan kita ber andai andai, bila hal ini yang dijalankan pasti wartawan disegani dan dihargai,karena selalu menyajikan berita benar.

Biarlah para Kepala Daerah dan para pengguna anggaran tidak butuh dengan Wartawan tidak butuh dengan media, akan tetapi kita tetap butuh berita, dan menulis Fakta dan realita, pasti suatu saat Wartawan itu sangat dibutuhkan.

Karena wartawan itu telah menunjukkan sikap dan karakter yang benar, sehingga muncullah bahasa yang pernah diucapkan oleh NAPOLEON BONA PARTE, pernah berkata “Saya lebih takut melihat satu Pena daripada seribu Pedang” dan seterusnya, juga di zaman DIGITALISASI saat sekarang ini ujung jari para wartawan dapat menggoyang Dunia, juga bisa membawa kita Jurnalis keranah Hukum, maka bekerjalah sesuai fakta.

Wahai para rekan wartawan mari kembali ke habitat kita, yang sebenarnya, wahai para pejuang kebenaran, pejuang keadilan, pejuang demokrasi ditanganmu

Ada 4 pilar dalam bahasa demokrasi dinegeri ini, mari kita bersatu, mari kita bergandeng tangan tunjukkan kekuatan “Pena” mu, tunjukkan tajamnya “JARI”mu, dalam menggenggam digitalisasi kita yakin bahwa “jari jari” wartawan dapat mengoyang Dunia.

catatan: JAULIM SARAN

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%
Previous post Terkait Kejadian Suami Siram Anak,Istri dan Mertua Pakai Air Keras,Ery Effendy SH Kecam Keras
Next post Rumah Bapak Silan Berciri Khas Adat Kebaya Rumah Adat Betawi Berada di Kampung Gabus Tengah
%d blogger menyukai ini: